Minggu, 12 April 2020

Surat Utang Negara Dapat Menjadi Bencana Baru Setelah Wabah Virus Corona

Anggota Komisi XI DPR RI, Heri Gunawan menilai surat utang yang dirilis pemerintah dengan nilai 4,3 miliar dollar AS dapat menjadi bencana baru setelah pandemik virus corona. Menurutnya, Indonesia akan terperosok kedalam jurang hutang global yang berbunga tinggi.

Mengingat surat hutang yang dikeluarkan saat ini menjadi yang terbesar sepanjang sejarah dari global bond yang pernah diterbitkan oleh Pemerintah Indonesia. Dengan kurs Rp 16.000 per dollar AS atau setara dengan nilai yang mencapai Rp 68,6 triliun.

"Menteri Keuangan Sri Mulyani sebagai entry Menteri Keuangan Terbaik di dunia mengumumkan ini dengan bangganya. Padahal ini adalah sebuah bencana bukan prestasi. Indonesia menjadi negara pertama yang mengeluarkan sovereign bond sejak pandemik COVID-19 mulai terjadi," kata Heri.

Seperti diketahui bahwa ada tiga jenis surat hutang yang akan diterbitkan oleh pemerintah. Pertama, Surat Berharga Negara Seri RI1030 dengan tenor 10,5 tahun yang akan jatuh tempo pada tahun 2030 yang akan datang dengan nilai 1,65 miliar dollar AS dengan yield global sebesar 3,9 persen.

Surat Utang Negara Dapat Menjadi Bencana Baru Setelah Wabah Virus Corona

Kedua adalah Seri RI1050 dengan tenor 30,5 tahun yang akan jatuh tempo pada tahun 2050 dengan nominal sebesar 1,65 miliar dengan yield 4,25 persen. Terakhir adalah Seri RI0470 dengan tenor 50 tahun yang jatuh tempo pada 2070 dengan nilai 1 miliar dollar AS dan yeild 4,5 persen.

"Jika melihat besaran yield yang ditawarkan yaitu 3,9 persen, 4,25 persen dan 4,5 persen maka Indonesia berpeluang terperangkap didalam manager fund global," jelas Heri.

Politisi Gerindra tersebut mengatakan bahwa sejak awal banyak pihak sudah mengingatkan pemerintah untuk tidak menggunakan sumber pendanaan dari global bond ketika wabah corona ini karena para manager fund global akan memasang yield yang sangat tinggi.

"Ternyata, peringatan ini tidak diindahkan oleh Menteri Keuangan dan pada akhirnya Indonesia akan masuk kedalam lilitan global bond yang berbunga tinggi," kilahnya.

Sebelumnya, Pemerintah melakukan transaksi penjualan tiga seri Surat Utang Negara atau global bonds dalam mata uang dollar AS yang mencapai 4,3 miliar dollar AS. Penerbitan global bonds ini akan digunakan untuk menutupi defisit APBN secara umum karena dipastikan menurunkan sektor pendapatan negara disebabkan oleh turunnya pertumbuhan ekonomi akibat virus corona serta biaya penanganan dan pemulihan COVID-19.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani mengatakan bahwa dari ketiga surat hutan negara tersebut terdiri dari masing-masing RI1030 dengan nilai 1,65 miliar dollar AS dengan jatuh tempo 10,5 tahun, RI1050 sebesar 1,65 miliar dengan tenor 30,5 tahun dan terkahir adalah RI0470 mencapai 1 miliar dollar AS dengan jatuh tempo 50 tahun.

"Di tengah kondisi pasar luar biasa gejolak, Pemerintah berhasil menerbitkan global bond dengan nilai total 4,3 miliar dollar AS. Ini adalah satu window yang sangat kecil karena adanya ketidakpastian pada pasar global yang akan bergerak sangat dinamis dan tidak pasti," kata Sri Mulyani.

"Ini juga menjadi penerbitan terbesar didalam sejarah penerbitan surat hutang dalam mata uang dollar AS terbesar yang pernah diterbitkan oleh pemerintah Indonesia," lanjutnya.