Rabu, 23 Oktober 2019

Kredit Ditopang Oleh Bank Besar Ketika Bank Kecil Berkinerja Buruk

Pertumbuhan kredit industri perbankan tahun ini ditopang oleh para pemain besar. Pertumbuhan tahunan bank umum kelompok usaha IV naik dua kali lipat diatas rata-rata sedangkan sisanya kesulitan untuk menyalurkan kredit baru.

Hal tersebut terlihat dari data OJK yang dirilis per Agustus 2019. Berdasarkan data tersebut, fungsi intermediasi bank dengan modal inti kurang dari RP 30 triliun hanya naik 0,1 persen secara tahunan atau menjadi Rp 2.521,9 triliun. Padahal portofolio kredit bank secara total mengalami pertumbuhan 8,6 persen year-on-year menjadi Rp 5.464,9 pada periode tersebut.

Kelompok bank dengan modal inti pas-pasan atau BUKU I mengalami penurunan kredit sebesar 13,7 persen year-on-year menjadi Rp 39,9 triliun. Utamanya hal ini disebabkan oleh kredit modal kerja dan kredit investasi yang melorot 20 persen dan 37,4 persen.

Kredit Ditopang Oleh Bank Besar Ketika Bank Kecil Berkinerja Buruk

BUKU III juga membukukan kondisi serupa. Pembiayaan bank umum konvensional dengan modal inti Rp 5 triliun hingga Rp 30 triliun juga turun 1,3 persen secara tahunan menjadi Rp 1.721,9 triliun.

Sementara itu, BUKU II masih mencatatkan angka positif pada pertumbuhan penyaluran kreditnya. Akan tetapi, realisasi kenaikan intermediasi BUKU II masih dibawah industri yaitu 6,3 persen year-on-year.

Menurut proyeksi LPS, penyaluran kredit perbankan tumbuh secara lebih baik dan terukur sejalan dengan strategi bank untuk menjaga kualitas dari aset yang dimiliki dan memperbaiki tingkat keuntungan atau profitabilitas. Pada sisa tahun ini, ekspansi kredit kemungkinan akan dikontribusikan oleh bank besar.

"Sementara untuk bank ukuran menengah dan kecil cenderung terbatas tergantung perbaikan laju pertumbuhan pada sisi dana dari pihak ketiga," demikian tulis Laporan Indikator Likuidikas.

Adapun berdasarkan jenis penggunaan, pertumbuhan kredit perbankan per Agustus 2019 didukung oleh investasi yang nai 12,7 persen year-on-year. Pada saat yang sama kredit modal kerja dan konsumsi naik 7,4 persen year-on-year dan 6,9 persen year-on-year.

Hingga akhir 2019 LPS memperkirakan pertumbuhan akan mencapai 11,7 persen year-on-year. Proyeksi ini seiring dengan optimisme dari regulator dan otoritas seperti Bank Indonesia dan pemerintah yang melihat pertumbuhan kredit pada akhir tahun ini akan berada diantara 10 persen year-on-year hingga 12 persen year-on-year.