Selasa, 29 Oktober 2019

Ditengah Perlambatan Ekonomi, Laba BCA Tembus Rp 20 Triliun

PT Bank Central Asia Tbk atau BCA membukukan kinerja yang cukup solid untuk menutup kuartal III tahun 2019. Hal ini tercermin dari capaian laba bersih yang meningkat 13 persen secara tahunan menjadi Rp 20,9 triliun.

Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan bahwa pencapaian tersebut didukung oleh pencapaian kinerja operasional yang solid. Sejalan dengan pertumbuhan dari kredit BCA, pendapatan bunga bersih juga meningkat 12,2 persen secara tahunan menjadi Rp 37,4 triliun.

Sementara itu, pendapatan operasional lainnya naik 19,3 persen menjadi Rp 15 triliun yang didorong oleh peningkatan provisi dan komisi yang naik 16,3 persen serta pendapatan transaksi perdagangan.

Ditengah Perlambatan Ekonomi, Laba BCA Tembus Rp 20 Triliun

"BCA mencatat pertumbuhan kredit diberbagai kategori dan segmen serta membukukan peningkatan dana CASA (Current Account Saving Account). Kepercayaan nasabah pada layanan BCA menjadi pendorong utama kinerja bisnis BCA yang terus berkelanjutan," kata Jahja.

Pada saat yang sama, penyaluran kredit perseroan tercatat naik 10,9 persen pada kuartal III 2019 sedangkan pembiayaan syariah naik 5,9 persen menjadi Rp 5 triliun.

Perusahaan juga daapt mencatatkan pertumbuhan himpunan dana masyarakat sebesar dua digit yaitu 10,4 persen menajdi Rp 683,1 triliun. Pertumbuhan positif dana pihak ketiga dikontribusikan oleh pertumbuhan deposito yang naik 19,7 persen menjadi 169,2 triliun.

Sementara itu, porsi terbesar masih dikontribusikan oleh dana murah sebesar 75,2 persen. CASA juga mengalami pertumbuhan 7,6 persen menjadi Rp 513,9 triliun yang ditopang oleh pertumbuhan jumlah transaksi yang tinggi terutama dari e-channels.

Pada sisi lain, Jahja menjelaskan bahwa BCA terus mempertahankan rasio keuangan yang kuat. Rasio kecukupan modal dan rasio kredit terhadap dana pihak ketiga tercatat pada level yang masih sehat dengan masing-masing tercatat sebesar 23,8 persen dan 80,6 persen serta rasio pengembalian aset atau ROA mencapai 4,0 persen.

"Fokus dalam menjaga posisi likuiditas dan permodalan yang kuat dan kualitas kredit yang sehat akan menjadi penggerak utama dari kinerja bisnis BCA untuk jangka panjang. BCA tetap mengembangkan bisnis secara hati-hati dengan mencermati kondisi bisnis dan mengoptimalkan peluang yang ada," kata Jahja.