Selasa, 08 Oktober 2019

92 Juta Orang Indonesia Belum Mendapatkan Akses Ke Perbankan

Laporan ekonomi digital e-Conomy SEA 2019 menyebutkan bahwa 92 juta orang Indonesia yang dimana setengah dari jumlah populasi orang dewasa masuk kedalam kategori belum memperoleh akses ke perbankan.

Hal ini berarti, mereka tidak memiliki rekening bank, kartu kredit, simpanan hingga asuransi. Ini berbeda dengan Malaysia dan Thailand yang masing-masing hanya memiliki tiga juta dan 10 juta dari populasi mereka yang masuk ke kategori tidak mendapatkan akses ke bank.

Sejatinya, layanan keuangan digital dari fintech akan menjadi andalan untuk dapat merangkul para unbanked tetapi itu dihalangi oleh infrastruktur yang tidak mendukung. Alhasil, tidak hanya bank konvensional yang mengalami kesulitan untuk masuk, para pelaku fintech juga sulit memberikan akses ke jasa perbankan.

92 Juta Orang Indonesia Belum Mendapatkan Akses Ke Perbankan

"Akses unbanked ke mobile internet mungkin lebih terkekang seperti yang diketahui saat ini, mobile broadband terkadang lebih sulit diluar area urban kunci. Jadi peluangnya lebih sulit untuk dilihat dan sulit untuk dapat menjangkau mereka," kata Florian Hoppe, Leader of Asia-Pacific Digital Pratice.
Menurut laporan e-Conomy SEA 2019, masalah unbanked di regional Asia Tenggara memang banyak dipengaruhi oleh minimnya infrastruktur. Selain itu, regulasi yang ketat yang tidak akomodatif juga menjadi penyebab dari minimnya kompetitif dan inovasi.

Lebih lanjut, 47 juta orang dewasa Indonesia masuk ke kategori underbanked, yaitu punya bank tetapi belum dapat menggunakannya untuk kredit ataupun investasi.

Untuk kategori ini tantangannya lebih mudah yaitu layanan keuangan digital direkomendasikan untuk dapat meraih kepercayaan dari para nasabah supaya mau menggunakan layanan perbankan lainnya selain pembayaran.

Florian memberikan contoh seperti kepercayaan dari segi keamanan siber dan juga meningkatkan upaya Know Your Consumer. Pemerintah pun diminta untuk mendukung dengan menerapkan berbagai aturan yang konsisten dan tidak sulit diprediksi oleh pasar dan pelaku dalam menentukan kebijakan.