Senin, 25 Mei 2020

Bursa Saham Asia Naik Walaupun Dibayangi Kekhawatiran Hubungan AS Dengan China

Bursa saham Asia naik pada awal perdagangan minggu ini, 25 Mei 2020 karena sentimen investor yang kuat walaupun dibayangi oleh kekhawatiran adanya gesekan yang lebih tajam pada hubungan AS-China.

Patokan Australia ASX200 naik 1,46 persen pada 5.577 dengan beberapa sektor diperdagangkan naik.

Di Jepang, indeks Nikkei 225 naik 1,3 persen sedangkan untuk indeks Topix naik 1,2 persen. Indeks Korea Selatan yaitu Kospi naik tipis yaitu 0,19 persen.

Pasar saham di Singapura, India dan Indonesia sendiri ditutup karena adanya hari libur nasional menyambut Idul Fitri.

Bursa Saham Asia Naik Walaupun Dibayangi Kekhawatiran Hubungan AS Dengan China

Pasar Asia Pasifik menurut pada akhir pekan lalu setelah China mengumumkan undang-undang keamanan baru yang jika diterapkan akan memberikan Beijing kontrol yang lebih besar atas Hongkong. Hal ini memicu kembali protes pro-demokrasi lebih jauh setelah sempat mereda karena wabah COVID-19.

Rancangan tindakan ini diumumkan pada Kongres Rakyat Nasional China yang merupakan parlemen di China ketika memulau sesi tahunan yang akan berlangsung hingga 28 Mei.

"Sentimen resiko terbukti tinggi pada Jumat malam terhadap adanya kekhawatiran mengenai dampak dari China yang memperkenalkan undang-undang ini. Kelemahan pada ekuitas Asia membuat perdagangan pada sesi Eropa berlangsung datat walaupun pasar Amerika berjalan cukup positif," kata Hayden Dimes yang berasal dari ANZ Research.

Namun, pengumumna China ini menuai kritik dari pejabat tinggi AS. Penasihat keamanan nasional Gedung Putih, Robert O'Brien menjelaskan pada minggu, jika Beijing terus memaksakan hukum kontroversial ini maka pemerintah AS kemungkinan akan mengambil langkah yang lebih tegas terhadap China.

Menteri Luar Negeri China yaitu Wang Yi mengatakan pada Minggu bahwa beberapa kekuatan politik di Amerika Serikat berusaha mendorong hubungan kedua negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia ini ke depan pintu "Perang Dingin".

Menko Luhut Sebut Amerika Serikat Tertarik Relokasi Pabrik Ke Indonesia

Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menjelaskan bahwa banyak negara yang melirik Indonesia sebagai lokasi dari relokasi pabrik perusahaan mereka. Saat ini Indonesia menempati urutan keempat dari negara yang ada di dunia.

"Sekarang kita kan nomor 4 di dunia untuk tujuan investasi," kata Luhut.

Singapura menjadi tujuan investasi nomor 1 di dunia saat ini. Walaupun begitu, Luhut tidak mengkhawatirkan hal tersebut karena Singapura merupakan negara yang memiliki luas wilayah yang jauh lebih kecil dari Indonesia.

"Nomor 1 itu Singapura karena banyak kemudahan investasi yang mereka tawarkan. Akan tetapi, dengan luas wilayah yang sangat terbatas maka kita juga tidak perlu begitu khawatir," kata Luhut.

Menko Luhut Sebut Amerika Serikat Tertarik Relokasi Pabrik Ke Indonesia

Salah satu negara yang diutarakan mantan Dubes Singapura tersebut adalah Amerika Serikat. Luhut mengaku bahwa dirinya telah berbicara dengan tim dari Presiden AS Donald Trump terkait dengan rencana relokasi perusahaan AS ke Indonesia.

"Saya bicara dengan pembantu Presiden Trump dan dirinya menyambut positif relokasi beberapa industri yang mereka tanam ke Indonesia. Itu menjadi pembicaraan yang baik," kata Luhut.

"Saya juga masih berkomunikasi dengan pembantu presiden di sana supaya proyek ini dapat berjalan dengan baik," lanjut Luhut.

Hal lain yang memungkinkan untuk dilakukan kerjasama yaitu pengadaan alat kesehatan untuk penanganan COVID-19. Hal disebabkan oleh Indonesia yang telah dapat memproduksi PCD, rapid test kit dan hal lainnya terkait penanganan COVID-19.

"Karena kita mengalami masa COVID-19 ini bersama-sama, mereka juga kerepotan untuk masalah kesehatan ini sehingga Presiden Jokowi meminta unutk mengembangkan produk didalam bidang ini termasuk juga industrinya," katanya.

Rabu, 13 Mei 2020

Wall Street Akhiri Tren Penguatan Setelah Investor Putuskan Melakukan Profit Taking

Bursa saham AS turun tajam pada perdagangan hari Selasa. Hal ini sekaligus membuat saham keluar dari tren penguatan pada beberapa hari terakhir ini. Pelemahan ini terjadi karena investor mengevaluasi kembali prospek pemulihan ekonomi pasca kekhawatiran munculnya gelombang kedua penyebaran virus corona.

Dow Jones Industrial Average ditutup turun 457,21 poin atau 1,9 persen ke level 23.764, 78. Standard & Poor's 500 turun 2,1 persen ke level 2.870,12. Sementara itu indeks teknologi Nasdaq juga turun lebih dari persen ke level 9.002,55.

Wall Street Akhiri Tren Penguatan Setelah Investor Putuskan Melakukan Profit Taking

Mayoritas pemegang saham melakukan aksi ambil untung menjelang penutupan pasar. Bank of America, JPMorgan Chase, Citigroup dan Wells Fargo semuanya turun lebih dari 3 persen. Nike dan Disney keduanya juga ditutup turun 2,9 persen.

Investor juga melakukan aksi profit taking untuk saham teknologi. Facebook, Amazon dan Apple sama-sama turun lebih dari 1 persen. Sedangkan Netflix dan Alphabet ditutup turun lebih dari 2 persen.

"Kekhawatiran ekonomi masih menjadi perhatian utama. Walaupun ada pembukaan kembali, namun akan berjalan lambat," kata Peter Boockvar, kepala investasi di Bleakley Advisory Group.

"Ada kekhawatiran mendasar bahwa ekonomi akan pulih dengan lambat dan kita masih ditengah resesi yang mendalam," jelasnya.

Pemerintah Telah Tentukan Kriteria Untuk Menentukan BUMN Mana Yang Akan Dapatkan Suntikan Dana

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu mengatakan bahwa beberapa kriteria BUMN yang akan mendapatkan bantuan oleh pemerintah dalam Program Pemulihan Ekonomi Nasional. Program ini digulirka untuk mendorong kembali ekonomi nasional yang telah mengalami penurunan karena pandemi virus corona.

Febrio mejelaskan bahwa salah satu kriteria tersebut adalah perusahaan BUMN tersebut memiliki pengaruh besar terhadap hajat hidup masyarakat secara luas.

"Pemerintah berhati-hati. Ada kategori dari supply and demand. Kriteria yang diutamakan adalah harus ada pengaruh besar terdapat hajat hidup orang banyak," katanya.

Selain itu, lanjutnya, pemerintah juga akan melihat peran sovereign yang akan dijalankan oleh BUMN, eksposurnya terhadap sistem keuangan, jumlah kepemilikan pemerintah hingga total aset yang dimiliki oleh BUMN.

Pemerintah Telah Tentukan Kriteria Untuk Menentukan BUMN Mana Yang Akan Dapatkan Suntikan Dana

Namun menang, Febrio menjelaskan bahwa kriteria tersebut belum secara resmi dapat diterapkan. "Ini belum resmi ya. Ini akan resmi ketika sudah ada pembahasan pada Rapat Kabinet dan disetujui oleh presiden," jelasnya.

Selain itu, pemerintah juga menetapkan beberapa skala prioritas dalam membantu BUMN. Beberapa skala prioritas yang dimaksud adalah BUMN yang bergerak pada sektor infrastruktur, pangan, transportasi, SDA, keuangan, manufaktur, energi hingga pariwisata.

Dengan berbagai kondisi ini, menurut Febrio, pemerintah akan membantu BUMN supaya dapat tetap bertahan ditengah pandemi ini. Namun, ia belum dapat menjelaskan secara rinci perusahaan BUMN mana saja yang akan memperoleh bantuan.

"Pengambilan mekanisme strategis belum dapat diumumkan siapa saja yang dapat memperoleh, tapi dengan kriteria dan skala prioritas tadi akan mempermudah penentuannya," jelasnya.

Febrio juga tidak membeberkan secara jelas bentuk bantuan apa yang akan diberikan. Namun, beberapa bentuk bantuan yang telah dikaji adalah PMN atau penempatan modal negara hingga kompensasi.

Sebelumnya, didalam skema Program Pemulihan Ekonomi Nasional yang diatur pada PP 23/2020, pemerintah telah menyiapkan beberapa langkah untuk mengantisipasi pelemahan ekonomi ketika pandemi COVID-19. Diantaranya adalah dengan menyuntik BUMN mulai dari PMN Rp 25,27 triliun, talangan modal kerja Rp 32,65 triliun hingga percepatan pembayaran kompensasi dan penugasan Rp 94,23 triliun.

Beberapa BUMN yang disebut memperoleh PMN adalah PLN sebesar Rp 5 triliun, Hutama Karya yang mendapatkan Rp 11 triliun, BPUI Rp 5,27 triliun, PNM Rp 2,5 triliun dan ITDC Rp 500 miliar.

Untuk talangan modal kerja diberikan kepada Garuda Indonesia yaitu sebesar Rp 8,5 triliun, PTPN Rp 4 triliun, Krakatau Steel Rp 3 triliun, Bulog Rp 13 triliun, PT KAI Rp 3,5 triliun dan Perumnas Rp 650 miliar.

Minggu, 26 April 2020

Pengusaha Otobus Ungkapkan Bahwa Kebijakan Relaksasi Dari OJK Tidak Jelas

Direktur Perusahaan Otobus (PO) Naikilah Perusahaan Minang (NPM), Angga Vircansa Chairu menilai bahwa kebijakan OJK yang tertuang dalam POJK Nomor 11 Tahun 2020 mengenai Stimulus Perekonomian Nasional sebagai kebijakan Coutercyclical Dampak Penyebaran Coronavirus, belum menyasar para pelaku industri transportasi bus.

Didalam kebijakan ini, OJK hanya memberikan keringan untuk penundaan cicilan pembayaran kredit untuk nasabah yang terdampak COVID-19 dengan platfon kredit kurang dari Rp 10 miliar dengan maksimal satu tahun.

"Saya tahu pemerintah berusaha dengan keras dapat melewati krisis COVID-19. Saya tertarik POJK Nomor 11 yang diterbitkan oleh OJK. Rp 10 miliar diberikan fasilitas keringanan. Nah bus kami itu Rp 1,5 miliar per bus yang secara otomatis kami tidak dapat memperoleh keringanan tersebut," katanya

Pengusaha Otobus Ungkapkan Bahwa Kebijakan Relaksasi Dari OJK Tidak Jelas

Dia pun mempertanyakan kejelasan dari aturan ini, apakah bisnis transportasi ini termasuk didalam aturan tersebut atau tidak. Karena didalam POJK tersebut dijelaskan bahwa seluruh bisnis yang terdampak secara langsung dan tidak langsung bole mengajukan permohonan keringanan dengan bawah Rp 10 miliar dan diatas Rp 10 miliar.

"Itu gimana penjelasannya? Saya sudah mengajukan pada akhir Maret 2020 itu. Saya tidak minta tidak hanya wacana saja," katanya.

Direktur Perusahaan Otobus Putra Jaya, Vicky Hosea mengatakan bahwa sejauh ini pihaknya juga tengah mencoba mengajukan kepada OJK untuk keringanan kredit. Namun sejauh ini belum ada persetujuan yang lebih lanjut.

"Sampai saat ini masih didalam pengajuan belum ada persetujuan. Terkait juga mengenai pengurangan denda atau penghapusan bunga ataupun pokok sejauh ini perbankan tidak ada skema seperti itu. Yang ada penangguhan bunga itu ditangguhkan kepada utang pokok kredit dan dihitung ketika selesai COVID-19," jelasnya.

Operator Lotere Prancis Mengumumkan Penurunan Pendapatan Karena Virus Corona

Operator lotere Prancis, La Fran├žaise des Jeux (FDJ) telah mengumumkan penurunan pendapatan sebesar 1 persen secara tahunan untuk kuartal pertama 2020 dikarenakan wabah virus corona.

Pendapatan turun menjadi 500 juta euor sementara taruhan pemain untuk kuartal pertama turun 5 persen dari 2019 menjadi 4,1 miliar euro. Namun, semenjak dimulainya lockdown di Prancis pada 16 Maret, taruhan telah turun 60 persen dengan jumlah pemasang atau pemain pada permainan lotere dan togel terpercaya ini telah turun lebih dari 40 persen.

Operator Lotere Prancis Mengumumkan Penurunan Pendapatan Karena Virus Corona

Taruhan olahraga mengalami penurunan pendapatan hingga 95 persen semenjak dihentikannya semua kompetisi olahraga utama diseluruh dunia.

Operator mengatakan bahwa dampak dari virus corona ini telah memberikan dampak sebesar 100 juta euro untuk pendapatan dan 50 juta euro untuk EBITDA.

Grup bisnis ini telah melakukan beberapa langkah untuk dapat menghasilkan sekitar 80 juta euro untuk sisa tahun 2020 sementara dewan direksi telah mengajukan perubahan pembayaran dividen untuk memastikan pembayaran dapat dilakukan yaitu sebesar 30 persen menjadi hanya 0,45 euro per saham.

CEO FDJ, Stephane Pallez mengatakan, "Semenjak awal krisis kesehatan yang tidak terduga ini, FDJ telah memperkuat mobilisasi untuk membatasidampak terhadap perusahaan, pekerja dan para pemegang saham dengan jika solidaritas dan tanggung jawab.

"Kondisi yang tidak terduga ini telah menjadi efek yang signifikan pada aktivitas perusahaan."

Minggu, 12 April 2020

Surat Utang Negara Dapat Menjadi Bencana Baru Setelah Wabah Virus Corona

Anggota Komisi XI DPR RI, Heri Gunawan menilai surat utang yang dirilis pemerintah dengan nilai 4,3 miliar dollar AS dapat menjadi bencana baru setelah pandemik virus corona. Menurutnya, Indonesia akan terperosok kedalam jurang hutang global yang berbunga tinggi.

Mengingat surat hutang yang dikeluarkan saat ini menjadi yang terbesar sepanjang sejarah dari global bond yang pernah diterbitkan oleh Pemerintah Indonesia. Dengan kurs Rp 16.000 per dollar AS atau setara dengan nilai yang mencapai Rp 68,6 triliun.

"Menteri Keuangan Sri Mulyani sebagai entry Menteri Keuangan Terbaik di dunia mengumumkan ini dengan bangganya. Padahal ini adalah sebuah bencana bukan prestasi. Indonesia menjadi negara pertama yang mengeluarkan sovereign bond sejak pandemik COVID-19 mulai terjadi," kata Heri.

Seperti diketahui bahwa ada tiga jenis surat hutang yang akan diterbitkan oleh pemerintah. Pertama, Surat Berharga Negara Seri RI1030 dengan tenor 10,5 tahun yang akan jatuh tempo pada tahun 2030 yang akan datang dengan nilai 1,65 miliar dollar AS dengan yield global sebesar 3,9 persen.

Surat Utang Negara Dapat Menjadi Bencana Baru Setelah Wabah Virus Corona

Kedua adalah Seri RI1050 dengan tenor 30,5 tahun yang akan jatuh tempo pada tahun 2050 dengan nominal sebesar 1,65 miliar dengan yield 4,25 persen. Terakhir adalah Seri RI0470 dengan tenor 50 tahun yang jatuh tempo pada 2070 dengan nilai 1 miliar dollar AS dan yeild 4,5 persen.

"Jika melihat besaran yield yang ditawarkan yaitu 3,9 persen, 4,25 persen dan 4,5 persen maka Indonesia berpeluang terperangkap didalam manager fund global," jelas Heri.

Politisi Gerindra tersebut mengatakan bahwa sejak awal banyak pihak sudah mengingatkan pemerintah untuk tidak menggunakan sumber pendanaan dari global bond ketika wabah corona ini karena para manager fund global akan memasang yield yang sangat tinggi.

"Ternyata, peringatan ini tidak diindahkan oleh Menteri Keuangan dan pada akhirnya Indonesia akan masuk kedalam lilitan global bond yang berbunga tinggi," kilahnya.

Sebelumnya, Pemerintah melakukan transaksi penjualan tiga seri Surat Utang Negara atau global bonds dalam mata uang dollar AS yang mencapai 4,3 miliar dollar AS. Penerbitan global bonds ini akan digunakan untuk menutupi defisit APBN secara umum karena dipastikan menurunkan sektor pendapatan negara disebabkan oleh turunnya pertumbuhan ekonomi akibat virus corona serta biaya penanganan dan pemulihan COVID-19.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani mengatakan bahwa dari ketiga surat hutan negara tersebut terdiri dari masing-masing RI1030 dengan nilai 1,65 miliar dollar AS dengan jatuh tempo 10,5 tahun, RI1050 sebesar 1,65 miliar dengan tenor 30,5 tahun dan terkahir adalah RI0470 mencapai 1 miliar dollar AS dengan jatuh tempo 50 tahun.

"Di tengah kondisi pasar luar biasa gejolak, Pemerintah berhasil menerbitkan global bond dengan nilai total 4,3 miliar dollar AS. Ini adalah satu window yang sangat kecil karena adanya ketidakpastian pada pasar global yang akan bergerak sangat dinamis dan tidak pasti," kata Sri Mulyani.

"Ini juga menjadi penerbitan terbesar didalam sejarah penerbitan surat hutang dalam mata uang dollar AS terbesar yang pernah diterbitkan oleh pemerintah Indonesia," lanjutnya.